Beranda Coffee Talk

Tentang FAIR TRADE

BERBAGI

 

 

1. APAKAH FAIRTRADE?

Secara singkat arti dari kata “ Fairtrade” adalah Fair artinya Adil, Trade artinya Berdagang

Fairtrade artinya berdagang secara adil.

Fair Trade adalah suatu bentuk keoptimisan pemikiran, sikap dan tindakan dari orang-orang yang tidak bisa melepaskan diri dari jeratan globalisasi. Fair Trade muncul sebagai alternatif dari bentuk perdagangan bebas (free trade) yang menurut banyak orang sangat tidak adil. Kenyataan bahwa kemakmuran hanya dinikmati oleh sekelompok kecil warga bumi sementara kemiskinan akut yang massif diderita oleh sebagian besar warga lainnya adalah bukti akibat ketidakadilan free trade yang paling nyata. Bila ditelusuri akar permasalahannya terletak pada aturan-aturan free trade yang pada praktiknya sangat tidak adil

Aturan-aturan doubel standard atau standar ganda yang dipraktekkan negara-negara kaya dalam hubungan perdagangannya dengan negara-negara berkembang telah merubah hubungan perdagangan tersebut yang secara filosofis adalah hubungan partnership yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi hubungan eksploitatif. Dengan kata lain hubungan perdagangan antara negara kaya dengan negara berkembang hanya menjadi sarana pelegalan eksploitasi baru setelah cara-cara kolonialisasi tidak lagi dipandang cukup beradab. Standar ganda free trade memaksa negara-negara berkembang untuk meliberalisasi perdagangan mereka, sedangkan pada sisi yang lain negara-negara maju masih menerapkan kebijakan proteksi bagi produk yang akan masuk ke dalam pasar domestik. Konsekuensi penerapan standar ganda tersebut seperti dicatat oleh United Nations telah menyebabkan negara berkembang mengalami kerugian setiap tahunnya sebesar 100 juta dolar US. Selain itu ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang semakin besar dimana saat ini hanya 20% populasi dunia menikmati income yang jumlahnya 60 kali lebih besar dari income orang-orang miskin.

Di tengah kondisi perdagangan yang semakin lama semakin tidak adil tersebut dan telah menyebabkan ketimpangan yang semakin besar antara negara kaya dan negara berkembang, Fair Trade muncul sebagai sebuah gerakan perdagangan alternatif yang berpihak kepada produsen miskin melalui penerapan prinsip keadilan, transparansi, komunikasi dan keadilan gender. Dalam prakteknya, prinsip dan nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk rantai distribusi yang lebih pendek, penguatan organisasi produsen, peningkatan keterlibatan dan peranan perempuan dalam perdagangan, harga premium bagi produk yang dihasilkan.

Sejak menjadi sebuah gerakan pada tahun 1950 fair trade telah menyebar ke berbagai negara di kawasan Eropa, Amerika, dan Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri gerakan fair trade muncul pada pertengahan tahun 1980-an. Dalam perkembangannya fair trade di Indonesia telah cukup membantu produsen-produsen miskin di berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Malang, Mataram, Bali, Surakarta. Perkembangan fair trade yang cukup positif tersebut menunjukkan bangkitnya kepedulian lebih banyak masyarakat terhadap orang-orang di sekeliling mereka yang selama ini bekerja keras menyediakan keperluan mereka namun tidak mendapatkan hak sesuai proporsi yang seharusnya mereka terima.

2. KEMUNCULAN FAIRTRADE

  • Sebagai sebuah gerakan yang bertujuan membantu kehidupan para produsen miskin dan marjinal di negara-negara Dunia Ketiga, fair trade mengembangkan strategi bekerja sama atau melakukan perdagangan langsung dengan komunitas produsen tersebut. Model perdagangan semacam ini pertama kali dimulai oleh orang-orang Amerika melalui institusi Ten Thousand Villages (dulunya Mennonite Central Committee Self Help Service) dan SERRV (sekarang SERRV International) dengan komunitas masyarakat miskin di negara-negara Selatan pada akhir tahun 1940-an. Namun jejak fair trade seperti dikenal saat ini, muncul pertama kali pada tahun 1950-an yaitu ketika direktur Oxfam UK yang mengunjungi Hong Kong, mempunyai ide untuk menjual kerajinan yang dibuat oleh para pengungsi Cina ke toko-toko Oxfam. Menurut publikasi yang dikeluarkan oleh World Bank gerakan fair trade juga muncul pertama kali pada tahun 1950-an dengan sebutan Goodwill Selling. Perkembangan fair trade melalui gerakan yang terorganisir terutama organisasi non pemerintah (NGO) pertama kali diperkenalkan oleh Oxfam Great Britain (Inggris), Fair Trade (Amerika Serikat), Transfair (Jerman), serta organisasi independen seperti FLO (Fair Trade Labelling Organization) yang didirikan di Belanda pada bulan April 1997, lalu IFAT (Internasional Federation for Alternative Trade) yang didirikan di Noordwijk Belanda pada tanggal 12 Mei 1989, NEWS! (Network of Europian World Shops) didirikan di Eispeet-Belanda tahun 1994. EFTA (Europian Fair Trade Association) didirikan di Maastricht-Belanda tahun 1990, FINE didirikan tahun 2001 yang merupakan gabungan di mana akronim FINE diambil dari huruf depan FLO, IFAT, NEWS! dan EFTA. 1950‘s: pergerakan FairTrade mulai.

Perkembangan ide dan gerakan fair trade di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Oxfam GB/Indonesia. Fair trade adalah salah satu dari program utama Oxfam Indonesia yang didirikan pada tahun 1972. Gerakan Fair Trade muncul pada pertengahan 1980-an sebagai bentuk reaksi dari kondisi perdagangan Indonesia yang sangat merugikan produsen-produsen kecil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pada pertengahan 1990-an, gerakan Fair trade Indonesia berkembang pada komoditi pertanian khususnya pertanian organis. Perkembangan ini ditandai dengan berkumpulnya beberapa NGO pada tahun 1996 di Yogyakarta yang difasilitasi oleh Oxfam GB/Indonesia. Tindak lanjutnya didirikanlah Konsorsium Masyarakat Fair trade (KMFT) pada oktober 1997 dengan agenda pertama menentukan langkah strategis program Fair trade dan merintis pendirian toko bersama sebagai media untuk mempraktekkan Fair trade yang diberi nama SAHANI (Sahabat Niaga) sebagai ujung tombak KMFT untuk melawan sistem perdagangan yang tidak adil. pada perkembangan selanjutnya gerakan fair trade telah merambah sektor pertanian dan tekstil.

4. FAKTA TENTANG PERKEMBANGAN FAIRTRADE DI DUNIA SEKARANG INI.

*        Pertumbuhan Penjualan produk yang tersertifikasi Fairtrade sekitar 40% setiap tahun selama lima tahun belakangan ini, untuk produk seperti Kopi, Teh, dan Pisang. Artinya sekitar 7,5 juta orang (petani,buruh ) mendapat keuntungan langsung dari produk mereka.

*        Sekarang ada 632 orgnisasi yang tersertifikasi Fairtrade di 58 negara, ada 1900 jaringan busines yang melakukan dagang dan penjualan produk fairtrade.

Hal ini terjadi karena pergerakan Fairtrade di seluruh dunia baik berupa kampanye, media berkembang di seluruh dunia. Juga adanya manfaat langsung bagi produser dalam berdagang, Juga kesadaran konsumen yang semakin tinggi untuk produk Fairtrade. Semakin orang yang berprinsip dengan membeli produk yang tersertifikasi fairtrade, secara tidak langsung akan membantu kehidupan petani tersebut.

5. PERKEMBANGAN FAIRTRADE DI INDONESIA

Perkembangan ide-ide fair trade di Indonesia yang berawal dari berdirinya Oxfam GB/Indonesia pada tahun 1972 yang kemudian intensif menyuarakan gerakan fair trade pada pertengahan tahun 1980-an secara perlahan namun pasti menunjukkan perkembangan positif. Hal itu dapat dilihat dari berdirinya tempat-tempat atau pusat-pusat penyalur produk-produk lokal yang diproduksi oleh para produsen yang selama ini termarginalkan akibat sistem perdagangan bebas yang tidak adil. Selain itu organisasi-organisasi non pemerintah seperti Oxfam sendiri telah membuka cabangnya yaitu di Aceh dan di Kupang dimana Yogyakarta sebagai pusatnya. Selain Oxfam, Yaysan Samadi Justice and Peace Institute juga merupakan NGO yang aktif menyuarakan ide-ide fair trade di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa ide-ide fair trade telah disebarkan ke wilayah-wilayah Indonesia yang kalau diperinci lagi mencakup Jawa, NTB, Maluku, Sulawesi, Buton.

Namun pada dasarnya barometer yang dapat dipakai apakah di Indonesia ide-ide fair trade telah berkembang cukup baik atau tidak dapat kita lihat dari peraturan-peraturan pemerintah yang sejalan atau sesuai dengan prinsip-prinsip fair trade tersebut. Berdasarkan data Report on Fair Trade Trends in US, Canada & Pacific Rim tahun 2003 terdapat tujuh prinsip-prinsip dasar fair trade yaituCreating opportunities for economically disadvantaged producers, Gender Equity, Transparency and accountability, Payment of a fair price, Working conditions, Environmental Sustainability.

Untuk melihat apakah prinsip-prinsip ide-ide fair trade telah cukup berkembang di Indonesia seperti disebutkan sebelumnya marilah kita lihat apakah aturan-aturan yang related dengan fair trade tersebut telah diadopsi oleh Indonesia. Salah satu aspek yang paling akrab dengan permasalahan negara berkembang seperti Indonesia dan sangat erat kaitannya dengan prinsip fair trade adalah tentang perburuhan. Aturan yang mengatur tentang kesejahteraan buruh secara nyata diatur dalam pasal 23 dan 24 UUD 1945.

Selain itu Indonesia juga telah meratifikasi konvensi ILO No. 87 dan No. 98 yang dan telah membuat UU-nya (UU No. 21 tahun 2000). Sebagai anggota PBB Indonsia juga terikat secara moral terhadap Kovenan ECOSOC Rights yang mewajibkan negara untuk menghormati, melindungi, dan menjamin hak-hak buruh, di antaranya hak atas pekerjaan, upah yang adil dan kondisi yang layak bagi buruh beserta keluarganya, kondisi kerja yang aman dan sehat, kesempatan yang sama untuk mendapat promosi, pembatasan waktu kerja, libur, dan istirahat dengan tetap mendapat gaji dan imbalan, hak untuk berserikat, membentuk dan bergabung dengan serikat buruh, hak serikat buruh untuk membentuk federasi atau konfederasi nasional dan menjadi anggota atau membentuk serikat buruh internasional, hak untuk mogok, hak atas jaminan dan asuransi sosial, dan cuti melahirkan dengan tetap mendapat gaji atau jaminan sosial yang memadai.

Dalam tataran praksis perkembangan gerakan Fair trade dapat kita amati dari respon dan tindakan aktor-aktor (yang disebut) penggerak Fair trade yang dalam hal ini adalah para decision maker. Di kalangan decision-maker, ide fair trade mendapatkan dukungan positif. Menteri Perdagangan dan Perindustrian Rini Soewandi pada waktu pemerintahan Megawati Sukarno Putri menyatakan bahwa ”Saya tidak anti-free trade, tapi saya lebih setuju fair trade”. Alasan yang dikemukakannya untuk mendukung statemen tersebut adalah “peta perdagangan dunia dewasa ini terasa tak adil. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, diserimpung berbagai peraturan berkedok globalisasi dan pasar bebas. Padahal, negara-negara maju yang memelopori beleid itu justru berupaya keras memproteksi produk andalannya. Tengok saja Amerika Serikat, yang saat ini memberlakukan ”Bio Terrorism Act” untuk menyeleksi barang-barang luar yang masuk. Negara-negara tersebut juga memberikan subsidi kepada produk-produk unggulannya untuk bersaing di pasaran dunia, sehingga harganya menjadi kompetitif”. Tentu saja gambaran tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Indonesia telah melaksanakan prinsip perdagangannya dengan prinsip-prinsip fair trade. Namun data-data tersebut merupakan gambaran yang cukup bagus untuk menjelaskan bahwa ide-ide fair trade pada dasarnya telah berkembang cukup bagus di Indonesia. Misalnya kebijakan membangun kesadaran akan pentingnya pertanian organik, melalui kebijakan “Go Organic 2010” yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia, riset dan diseminasi wacana di berbagai media massa, pendampingan petani oleh lembaga swadaya, dan lain-lain. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pada zaman Presiden Sukarno pun ide-ide fair trade telah tercermin di dalam undang-undang land reform yaitu Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960. UU tersebut merupakan salah satu jalan memberdayakan para petani terutama buruh-tani, dan kaum tani miskin.

Perjuangan pihak-pihak yang concern dengan nasib-nasib para para produsen yang termarjinalkan cukup intens dilakukan terutama oleh kalangan Non Govermental Organization (NGO) seperti Oxfam dan Samadi Justice and Peace Institute serta NGO-NGO lain yang tidak ter-cover dalam tulisan ini. Dari kalangan pemerintahan usaha perlindungan terhadap para produsen lokal juga telah dilakukan. Hal itu menunjukkan adanya harapan bahwa banyak hal dapat dilakukan untuk menciptakan kondisi perdagangan yang berkeadilan di tengah dahsyatnya gempuran globalisasi yang mengusung free trade yang secara nyata sangat berketidakadilan.

Namun usaha-usaha aktor-aktor tersebut dapat ditebak selalu mendapat hambatan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan sistem baru tersebut (fair trade). Logika ekonomi selalu menjadi alasan bahwa fair trade akan menyebabkan berkurangnya profit bagi bisnis yang selama ini dijalankan atas prinsip free trade.

Secara sistematis permasalahan yang dihadapi petani di Malang-juga dialami oleh petani-petani diseluruh negara berkembang menyangkut tiga tahap yaitu tahap pra produksi, tahap produksi, dan pasca produksi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh MBI-Malang untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah mempromosikan pertanian organik. Pertanian organik adalah pendekatan baru bidang pertanian yang mendasarkan pada pronsip berkelanjutan (sustainability) untuk peningkatan produktivitas dan sekaligus upaya mempertahankan basis sumber daya. Adapun prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan seperti digariskan oleh FAO mencakup prinsip kemantapan secara ekologis, keberlanjutan secara ekonomis, prinsip keadilan, prinsip kemanusian, dan prinsip fleksibilitas. Adapun metode kampanye yang dilakukan oleh MBI-Malang adalah dengan penyebaran brosur, presentasi, pembuatan label, pencetakan buletin, dan pameran produk. Contoh-contoh lain dari upaya-upaya NGO-NGO dalam menerapkan fair trade dapat dilihat dari suksesnya APIKRI Yogyakarta menembus jalur ekspor perdagangan alternatif di sektor kerajinan. Upaya Yayasan Samadi Solo dalam memberantas kemiskinan dengan cara melaksanakan fair trade melalui sektor produksi batik dan garmen di Solo juga merupakan bukti lain tentang upaya pelaksanaan fair trade oleh NGO di Indonesia.

Satu hal lain yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang merasa sebagai konsumen untuk mengembangkan Fair trade adalah melakukan konsumerisme etis atau konsumen etis. Pola konsumerisme ini sedang gencar-gencarnya dikampanyekan oleh NGO-NGO Fair trade di seluruh dunia. Di Indonesia penggerak konsumerisme etis adalah Oxfam dan Samadi Justice and Peace Institute. Pelaksanaan pola konsumerisme etis dapat dikatakan mudah karena setiap konsumen memiliki otoritas untuk menentukan produk-produk apa saja yang akan dikonsumsinya. Kalau dikaitkan dengan logika bisnis maka jika semakin banyak konsumen yang menjadi konsumen etis maka perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk-produk yang tidak didasarkan atas prinsip Fair trade akan mati dengan sendirinya.

Akan tetapi lagi-lagi cara tersebut akan mendapat hambatan berat, diantaranya adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dunia tentang arti penting Fair trade bagi kelompok-kelompok termarginalkan. Hal itu ditunjukkan dengan volume transaksi perdagangan yang berbasis Fair trade yang hanya sebesar US$ 400 juta pertahunnya, atau 0,1% dari total volume perdagangan global yang mencapai US$ 3,6 triliun.

6. FAIRTRADE KOPI DI INDONESIA

Pekembangan fairtrade coffee di Indonesia sepertinya sudah cukup berkembang, dimana sampai saat ini sudah ada 13 Produser/Organisasi Petani Kopi yang sudah mendapat sertifikat Fairtrade di Indonesia, dan 10 eksportir yang  sudah tersertifikasi Fairtrade yang sebagian besar berada di Sumatra yaitu :

DATA PRODUSER FAIRTRADE DI INDONESIA (2010)

No

Nama Producer

Alamat

Jumlah anggota

Luas Lahan

ha

Produksi/Tahun

/ha

Tahun Bergabung ke FAIRTRADE

1 APKLO SUMUT 152 100 120 2005
2 APKO ACEH 796 824 920 2009
3 TUNAS INDAH ACEH 4598 4297 4500 2007
4 HPKOGM ACEH 1155 1683.5 1850 2007
5 GLOC ACEH 2295 2381.80 2500 2007
6 KSU ARINAGATA ACEH 2112 2522.3 1740 2008
7 KKGO ACEH 1320 1275.25 1410 2009
8 KBQ BABURRAYAN ACEH 5800 6000 6500 2005
9 KSU BIES UTAMA ACEH 609 708.5 800 2009
10 KSU MAYANG JADI ACEH 1194 4010 4500 2010
11 KSU GAYO MANDIRI ACEH 679 679 700 2010
12 KSU ADIL WILADAH MABRUR ACEH 839 839 925 2009
13 KOPERASI PERMATA GAYO ACEH 2143 3635 4300 2008
23692 28955.35 30765

Sumber:  ASOSIASI FAIRTRADE INDONESIA (2010)

7. PENGARUH FAIRTRADE TERHADAP PERKEMBANGAN INDONESIA

Sulit untuk menentukan efektifitas dan pengaruh gerakan fair trade terhadap perekonomian Indonesia. Kedua hal itu sangat ditentukan oleh indikator apa yang kita gunakan untuk mengukurnya. Jika menggunakan indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia berdasarkan prinsip ekonomi liberal-kapitalis yang ditandai dengan peningkatan perkapita yang tinggi, ataupun berdasarkan volume transaksi bisnis yang dihasilkannya, maka jelas bahwa fair trade sangat tidak cukup efektif dan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Sebagai bahan komparasi, menurut data yang dikeluarkan oleh Fair Trade Organization (FTO) bahwa di Eropa dan Amerika Serikat jumlah transaksi perdagangan yang berbasis fair trade diestimasi hanya mencapai US$400 juta, hanya 0,1 % dari jumlah transaksi seluruh global trade. Untuk Indonesia data yang membukukan tentang volume transaksi perdagangan diseluruh Indonesia tidak kami temukan. Alasan sederhana yang dapat dikemukakan adalah gerakan ini masih tergolong baru yaitu baru muncul di Indonesia pada pertengahan tahun 1980-an. Faktanya beberapa pusat-pusat penyalur produk-produk yang berbasis fair trade bisa kami sebutkan hanya terdapat di Yogyakarta yaitu APIKRI, SAHANI, CD Bethesda, Yakkum, di Solo dimana Yayasan Samadi sebagai pendampingnya, Di Lombok yaitu Lombok Pottery Centre, Mitra Bali di Ubud-Bali. Keberadaan pusat-pusat penyalur tersebut yang masih sangat sedikit adalah indikator yang sulit dibantah bahwa fair trade belum efektif dan belum memberikan pengaruh yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Namun jika kita mau lepas dari indikator arus utama tersebut dengan menggunakan indikator lain seperti fairness dalam relasi perdagangan, gender mainsteraming, sustainability, penyediaan kondisi kerja yang sehat dan aman, sistem yang terbuka bagi pertanggungjawaban publik, maka fair trade cukup efektif dan memberikan pengaruh terhadap perekonomian indonesia. Walupun harus diakui bahwa tingkat efektifitas dan pengaruhnya masih sangat kecil. Hal itu mengingat gerakan fair trade merupakan gerakan yang belum lama berkembang di Indonesia. Namun jika kita melihat per-case seperti telah dijelaskan sebelumnya maka gerakan fair trade potensial untuk menjadi arus baru dalam sisitem perdagangan free trade yang merupakan arus utama.

Reasoning-nya adalah pertama, jika semakin banyak aktor baik decision maker pemerintah Indonesia maupun NGO-NGO yang concern dengan nasib produsen lokal yang selama ini termarginalkan, maka fair trade akan memiliki potensi besar untuk mempengaruhi perekonomian Indonesia. Alasan kedua adalah tingkat pendidikan penduduk dalam hal ini adalah para petani dan keluarga petani, buruh, dan para produsen kecil di Indonesia yang semakin baik, sehingga pola-pola perdagangan yang berkeadilan akan mendapatkan kekuatan yang semakin besar. Alasan ketiga adalah semakin banyaknya NGO-NGO di negara-negara maju yang concern dalam bidang Fair Trade, dimana hal ini menunjukkan bahwa di negara-negara penganut “ortodoks” sistem perdagangan arus utama, kepedulian terhadap perdagangan berkeadilan semakin meningkat. Peningkatan tersebut tentu saja akan berdampak sangat positif bagi perkembangan fair trade di Indonesia.

8. BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN SERTIFIKAT FAIRTRADE?

CARA MENDAFTAR KE FAIRTRADE

            I. LANGKAH PERTAMA PENDAFTARAN KE FLO:

 

1. Produsen / Pedagang pertama-tama membuat  kontak FLO-CERT dan mengajukan permohonan

2. FLO-CERT mengirimkan berkas pendaftaran ke produsen atau ke pedagang.

3. Produsen / Pedagang mengisikan formulir  Dengan lengkap dan mengirim  balik ke FLO-CERT

4. Begitu menerima dokumen yang lengkap, FLO-CERT akan melakukan chek secara menyeluruh untuk

menchek apakah produk dan tipe  organisasi dan melihat apakah organisasi itu layak untuk

mendapatkan certifikat.

5. FLO-CERT akan mengirim hasil chek ke produser atau ke pedagang dan juga akan mengirimkan

kwitansi pembayaran untuk pendaftaran ke produser/ pedagang. Jika misalnya 1 produk dapat diterima.

6. Producer / Trader membayar uang pendaftaran

7. Begitu menerima pembayaran, FLO-CERT akan mengirim paket aplikasi termasuk  questionnaire

dan format lainnya untuk di selesaikan.

8. Producer / Trader menyelesaikan  questionnaire,  menyusun semua dokumen tambahan dan

mengirimnya ke  FLO-CERT

9. FLO-CERT akan menchek demua dokumen dan merampungkanyan. Jika dokumen belum rampung,

FLO-CERT akan meminta dokumen yang tertinggal untuk dikirim.

10. Producer / Trader mengirim dokumen yang tertinggal.

11. Begitu menerima semua dokumen dan informasi yang dibutuhkan and information

Team Aplikasi FLO-Cert akan menyampaikan aplikasi ke regional evaluator.

12. Jika Evaluasi positif:

untuk Producers: faktur yang lain untuk inspeksi akan dikirim ke produser

untuk Pedagang: menerima ijin untuk bisa berdagang dan akan menerima  faktur untuk audit

dalam waktu 6 bulan

13. Produser / Pedagang membayar biaya audit.

14. Jadwal audit diatur

15. Audit dilakukan

16. Hasil evaluasi diumumkan  sekitar 6 minggu setelah audit

17. Keputusan hasil Evaluasi akan diinfo ke produser

 

II.  DOKUMEN-DOKUMEN APKLIKASI UNTUK DIKIRIM Application Documents (SPO):

 

1. Mengisi Questionnaire Generic Questionnaire for Small  Producer Organizations

2. Mengisi Quistionnaire untuk produc yang mau disertifikasi.Product Specific Questionnaire

3. Struktur Organisasi Dokumen Legal registration document

4. Anggaran Dasar Organisasi

5. Anggaran Rumah tangga organisasi

6. Notulen rapat RAT terakhir organisasi

7. Daftar Anggota:

Daftar anggota tetap lengkap dnegan keterangan-keterangan seperti:

a) Nama produser/petani

b) Lokasi/Peta lokasi anggota/lahan

c) Total luas penanaman tiap hektar

d)Total produksi

d) Produksi rata-rata tiap hektar

f) Daftar anggota tetap  / tidak tetap, pekerja musiman yang ada di organisasi

8. Daftar obat kimia yang digunakan atau  Sertifikat Organik  (jika ada)

9. DEPARTEMEN /BIDANG DALAM  FAIRTRADE  LABELLING ORGANIZATION –YANG   MEMBUAT SISTEM MENJADI FAIR

 

1.   FLO-Ev

Tugas:

  • Aturan main – standard yang harus dipatuhi bersama
  • Ketentuan Harga Minimum Pengaman dan Premium
  • Unit Pendukung organisasi petani (Producer Service and Relation – PSR)
  • Leison Officer  untuk mensupport producer baik untuk menjelaskan aturan main, membantu membuat dokumen, dll  (Petugas Lapangan dari FLO) di berbagai negara.
  1. FLO-CERT GmbH

Tugas :

  • Mengecek aturan main diikuti
  • Mengeluarkan sertifikasi atau mencabut sertifikasi
  • Inspeksi (Audit).
  1. NATIONAL  LABELLING  INITIATIVES  (di 21 negara)
  • Memberikan Izin bagi pedagang untuk menggunakan Logo Fairtrade di kemasan produknya.
  • Melakukan promosi tentang Fairtrade di berbagai negara.

10. ATURAN MAIN /KRITERIA KETAATAN (Compliance Criteria)

Daftar Compliance Criteria untuk organisasi kecil pada tahun pertama (0-year)

1.Pertumbuhan Sosial (Social Development)

  • Potensi perkembangan (Development potential
  • Anggota adalah petani kecil (members are small producers)
  •  Demokrasi, Partisipasi, Trasparansi (democracy, Participation, Transparency)

2. Perkembangan ekonomi (Economic Development)

  • Premium Fairtrade
  • Penguatan ekonomi organisasi (Economic strengtheningof the organization)

 

3. Perkembangan Lingkungan (Environmental Development)

  • Analisa dampak lingkungan, Rencana, dan Pengawasan (Impact assesment, Planning and monitoring)
  • Bahan Kimia pertanian (Agrochemical)
  • Sampah (Waste)-
  • Tanah dan air (Soil and Water)
  • Api (Fire)
  • Tumbuhan Rekayasa Genetik (Genetically Modified Organism /GMO)

4. Standart untuk Kondisi tenaga kerja (Standart for labour condition)

  • Kebijaksanaan ketenagakerjaan (Employment Policy)
  • Kebebasan dari diskriminasi (Freedom from discrimination)-
  • Kebebasan Pekerja (Freedom of labour)
  • Kebebasan berorganisasi dan kebebasan tawar menawar (Freedom of association and collective bargaining)
  • Kondisi pekerja (Condition of employment)
  • Kesehatan dan Keselamatan pekerja (Occupational Health and safety)

5. Ketentuan-ketentuan Perdagangan (Trade requirements)

  • Ruang lingkup sertifikasi(Scope of certification)
  • Asal Barang (Sourching)
  • Kontak Fairtrade( Fairtrade contac)
  • Produk bisa dilacak secara fisik(Physical product tracebility)
  • Pelacakan secara dokumentasi (Tracebility through documentation)
  • Masa Transisi (Transition period)
  • Pelaporan alur barang (Flow of good reporting)
  • Contrack
  • Suspensi (Suspension)
  • Pencabutan sertifikasi (Desertification)
  • Komplain tentang kwalitas (Quality Claims)
  • Pembayaran Harga Fairtrade minimum (Payment of fairtrade minimum price)
  • Ketentuan-ketentuan pembayaran (Payment terms)

11. SISTEM DAN PRINSIP YANG DITAWARKAN DALAM FAIRTRADE

*        Fairtrade diperuntukkan untuk organisasi baik berupa koperasi, asosiasi, Yayasan, atapun  organisasi . Artinya jika dia petani kecil ataupun buruh /karyawan kecil harus masuk dalam suatu wadah organisasi. Fairtrade tidak diperuntukkan untuk pribadi.

*        Dalam hal berorganisasi, harus menganut sistem Demokrasi dan transparansi (Semua anggota harus punya suara dalam membuat keputusan, tidak ada unsur diskriminasai, perlakuan gender yang adil). Artinya organisasi di arahkan untuk menjadi organisasi yang kuat dan solid sehingga mempunyai posisi tawar yang bagus.

*        Petani/organisasi disini diarahakan untuk bisa mandiri (sustain) dari produk mereka.

*        Perlakuan yang adil bagi buruh/tenaga kerja (misalnya masalah kesejahteraan, tidak mempekerjakan anak- anak dibawah umur ) Fairtrade mengikuti sistem ILO (International Labour Organization)

*        Kepedulian terhadap masalah lingkungan, Organisansi diarahakan untuk peduli lingkungan dengan mengusahakan produknya ramah ligkungan..

*        Kesempatan bagi organisasi/produses untuk menjual produknya secara langsung dengan pembeli. (petani di diarahakan supaya bisa melakukan bisnis, berhubungan dengan pembeli secara langsung)-Pendidikan business untuk petani.

*        Hubungan bisnis jangka panjang dengan pembeli

*        Harga minimum yang ditawarkan dalam berdagang. Dalam perdagangan Fairtrade harga suatu produk sangat stabil. Artinya ada posisi tawar yang bagus untuk produser utuk menawarkan harga dari produknya.

*        Fiartrade Premium untuk kesejahteraan petani dan organisasinya. Fairtrade Premium adalah harga yang diberikan oleh pembeli selain harga yang ditetapkan  (Bonus) dan fairtrade harus digunakan untuk kesejahterann patani dan orgnisasi baik itu berupa pembelian fasilitas untuk kepentingan bersama, program beasisiwa, dll.

12. APA KEUNTUNGAN BERDANGAN DALAM  SISTEM FAIRTRADE?

*        Berdagang dalam sistem dagang yang adil, semua pemain ikut aturan main sesuai standard bersama (Produser,Eksportir.Importir.Buyers harus tersertifikasi fairtrade)

*        Harga Pengaman Fairtrade Minimum bagi petani (sustainable production cost).

*        Premium Fairtrade bagi petani untuk kesejahteraan bersama.

*        Produksi ramah lingkungan

*        Perlakuan yang adil bagi tenaga kerja.

*        Tidak menggunakan tenaga kerja anak kecil dan remaja.

*        Hubungan kerjasama dagang yang jangka panjang dan stabil.

*        Memastikan organisasi tempat petani bernaung berjalan dengan baik (SFO) dan bisa mandiri.

*        Memastikan suara dan hak pengambilan keputusan untuk setiap anggota organisasi (SFO).

*        Semua dilakukan dengan transparan dan demokratis.

13. BEBERAPA DOKUMENT-DOKUMENT FAIRTRADE PENTING UNTUK PRODUCERS:

1. PUBLICT COMPLIANCE CRITERIA LIST -Small Farmer’s Organization (Kriteria Ketaatan)

2. PREMIUM MINIMUM PRICE AND FAIRTRADE PREMIUM TABLE

3. FLO-PROHIBITED-MATERIAL LIST.

4. FLO-CERT TRADE CERTIFICATION FEES

5. EXPLANATORY DOCUMENT FOR GENERIC FAIRTRADE STANDART FOR SMALL

FARMERS’ORGANIZATION

(Dokumen penjelasan dari standart generik fairtrade untuk organisasi kecil)

6. PREMIUM FAIRTRADE DOCUMENTS.

Beberapa Informasi penting di website tentang FAIRTRADE

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here